1. Pengakuan Bripka Keputusan Fatal di Tengah Asap dan Kepanikan
Apa Kabar Salatiga – Pengakuan Bripka Dalam pemeriksaan yang disiarkan langsung oleh Divpropam Polri via Instagram, Bripka R—sopir rantis Brimob yang menabrak Affan—mengungkap alasannya terus menerobos meskipun melindas korban. Di tengah kerusuhan, jalanan penuh batu dan asap, pandangannya sangat terbatas karena kaca rantis yang gelap dan terali pelindung. Dalam kondisi itu, dia menyatakan:
Saya tidak mengerti posisi orang, jadi saya hantam saja. Kalau nggak saya terobos, itu selesai… massa penuh.”
Dalam insiden yang menewaskan Affan, si pengemudi ojol sedang menyelesaikan pekerjaan—bukan ikut demo—ketika rantis Brimob melaju di tengah kerumunan massa.
2. Rekaman “Tabrak Aja” Memicu Amarah Publik dan Kritik Terbuka
Masyarakat bereaksi keras—menyebut tindakan ini sebagai indikasi “kesengajaan” bukan kecelakaan. Hal ini memicu tanda pagar seperti #JusticeForAffan dan menjadi trending di media sosial
Baca Juga: Lionel Messi Gagal Raih Trofi ke-47, Inter Miami Tumbang dari Seattle Sounders di Final Leagues Cup
3. Pengakuan Bripka Etika Terlanggar: Sanksi dan Langkah Transparan Polri
Divisi Propam Polri menyatakan bahwa tujuh anggota Brimob, termasuk sopir rantis, terbukti melanggar kode etik dan dijatuhi sanksi penempatan khusus (patsus) selama 20 hari. Kasus ini juga melibatkan Kompolnas dan Komnas HAM dalam penyelidikan agar proses berjalan transparan dan adil.
4. Pengakuan Bripka Beragam Perspektif Insiden Berdampak Lebih Luas
| Sudut Pandang | Inti Fokus |
|---|---|
| Sopir Rantis (Bripka R) | Berargumen dalam kondisi ekstrem, terbatas pandangan, dan massa menekan—tapi ungkapan “hantam saja” dinilai mematikan |
| Publik & Netizen | Video provokasi memicu gelombang kemarahan dan kritik terhadap aparat |
| Kepolisian (Propam) | Memberi sanksi awal dan buka pintu dialog transparan dengan lembaga eksternal |
| Komunitas Ojol & Masyarakat Umum | Kehilangan Affan jadi simbol represifitas berlebihan aparat terhadap warga sipil |
5. Esensi dan Dampaknya
Ungkapan “Saya hantam saja” bukan sekadar bahasa spontan—melainkan simbol kegagalan mempertimbangkan keselamatan warga sipil di tengah situasi krisis. Sementara itu, upaya Polri memberikan sanksi dan membuka jalur transparansi menjadi langkah penting dalam menangani krisis kepercayaan terhadap kepolisian.






